Pusat Penelitan dan Pengembangan Pengawasan

09.756 - Pengembangan Implementasi Manajemen Risiko di Pusdiklatwas BPKP

Implementasi MR di Pusdiklatwas BPKP meliputi risk assessment (penilaian risiko) dan merancang alternatif penanganan risiko terhadap risiko tinggi . Proses risk assessment difokuskan pada tataran stratejik dan tataran kegiatan untuk tiga bidang teknis dan bagian tata usaha di dalam organisasi Pusdiklatwas BPKP yakni Bidang P2E, Bidang P3KT, Bidang P2JFA, dan Bagian Tata Usaha.

Hasil risk assessment menggambarkan bahwa pada Fungsi Ke-Diklat-an terdapat potensi 83 risiko dan 152 dampak, sedangkan pada Fungsi Ke-TU-an terdapat potensi 104 risiko dan 135 dampak. Dari jumlah tersebut terdapat enam (6) risiko berada di area sangat tinggi (merah) dengan rincian sebagai berikut:

  • Pada fungsi Ke-Diklat-an, satu (1) risiko di tataran stratejik dan empat (4) risiko pada tataran operasional.
  • Pada fungsi Ke-TU-an, satu (1) risiko pada tataran operasional.

Dari hasil kajian dokumen Quality Procedure – ISO 9001, pengendalian yang dimiliki oleh Pusdiklatwas untuk seluruh aktivitas, baik aktivitas utama hingga aktivitas pendukung, dapat dikatakan memadai.

Terkait dengan enam (6) risiko yang berada pada area sangat tinggi tersebut tim fasilitator menyampaikan rancangan alternatif pilihan penanganan risiko yang perlu diputuskan melalui FGD dengan mempertimbangkan manfaat dan biayanya, yaitu :

  1. Rincian risiko dan pilihan penanganan pada Fungsi Ke-Diklat-an
    1. Risiko perumusan kegiatan organisasi diklat tidak/belum mengakomodatif aktivitas pendidikan dan pelatihan yang memenuhi kebutuhan dan keinginan lingkungan/ stakeholders user

Pilihan Penanganan Risiko:

Dalam merumuskan renstra, Pusdiklatwas sebaiknya melakukan survei kebutuhan stakeholders, melakukan analisis mengenai kemungkinan adanya perubahan lingkungan stratejik. Langkah yang dapat dilakukan di antaranya sebagai berikut:

•  Menyediakan media atau sarana komunikasi yang mudah diakses oleh stakeholders

•  Pihak Pusdiklatwas lebih proaktif untuk menggali informasi kebutuhan stakeholders

•  Menyediakan media atau sarana prasarana yang dapat mengakses informasi terkait dengan isu atau perubahan yang terjadi

•  Membentuk satgas yang bertugas mencari/mendapatkan ide-ide atau isu-isu yang berkembang yang dibutuhkan oleh stakeholders.

2) Risiko Distribusi hari penugasan mengajar WI yang tidak seimbang

Pilihan Penanganan Risiko:

•  Merancang peta kompetensi yang memuat informasi tentang data keikutsertaan diklat, data kinerja Widyaiswara, informasi tambahan dari hasil evaluasi pelaksanaan Diklat

•  Penyetaraan kemampuan Widyaiswara melalui diklat

•  Merancang peta penugasan untuk setiap Widyaiswara sehingga memudahkan koordinasi dan pemerataan pengajaran.

3) Risiko rasio ketersediaan SDM Widyaiswara/Instruktur dengan jumlah diklat yang tersedia tidak memadai

Pilihan Penanganan Risiko:

•  Melakukan analisis kebutuhan Widyaiswara/instruktur dengan memperhatikan kualitas dan jumlah tenaga Widyaiswara/instruktur.

•  Meningkatkan kompetensi tenaga Widyaiswara/instruktur yang tersedia

•  Merancang peta penugasan untuk setiap Widyaiswara sehingga memudahkan koordinasi dan pemerataan pengajaran.

4) Risiko Tidak tersedianya standar modul/bahan ajar untuk suatu mata diklat

Pilihan Penanganan Risiko:

•  Merancang panduan instruktur

•  Membentuk tim penyusun modul atau bahan ajar yang bertugas untuk selalu siap menyusun modul/bahan ajar, updating database modul atau bahan ajar dari hasil evaluasi pelaksanaan diklat ataupun untuk mata diklat baru.

5) Risiko Quality Procedure yang ditetapkan tidak dijalankan oleh masing-masing bidang secara konsisten dan bertanggungjawab

Pilihan Penanganan Risiko:

•  Membangun lingkungan kerja yang kondusif

•  Menegaskan kembali komitmen untuk mematuhi Quality procedure pada masing-masing bidang atau bagian

•  Melakukan internalisasi Quality procedure pada masing-masing bidang atau bagian.

 

2. Rincian risiko dan pilihan penanganan pada Fungsi Ke-Tata Usaha-an

Risiko TI Pusdiklat terinfeksi virus

Pilihan Penanganan Risiko:

•  Update secara berkala anti virus

•  Mengganti dengan produk anti virus yang terkini

•  Menghindari penggunaan PC oleh beberapa orang

•  Membatasi akses WEB yang mengandung Virus.

Berkaitan dengan hal tersebut dan untuk pengembangan manajemen risiko yang berkelanjutan di Pusdiklat, disarankan :

•  Merancang kriteria risiko sebagai dasar dalam penilaian risiko.

•  Terhadap enam risiko yang menjadi perhatian manajemen agar segera ditetapkan pilihan penanganan risiko yang lebih detil dengan memperhitungkan manfaat dan biaya yang timbul.

•  Merancang kebijakan manajemen risiko di lingkungan intern Pusdiklat agar manajemen risiko dapat melekat dan menjadi budaya serta bagian dari organisasi.

•  Dibentuk unit pengelola risiko/satuan tugas yang bertanggungjawab untuk keberlangsungan proses MR dan melakukan monitoring-reviu atas pelaksanaan MR. Satuan tugas yang dibentuk sebaiknya gabungan antara struktural dan PFA.

•  Merancang suatu daftar peristiwa negatif yang terjadi pada saat proses kegiatan berjalan. Fungsi daftar peristiwa ini sebagai sarana penilaian MR yang mengarah pada pendekatan kuantitatif.

 


Share