Pusat Penelitan dan Pengembangan Pengawasan

09.416 - Control Self Assessment

Setiap menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Mereka juga berkewajiban melakukan penilaian atas sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) yang menjadi tanggung jawabnya.

Control Self Assessment (CSA) merupakan metode penilaian efektivitas SPIP yang telah dipilih dan ditetapkan dalam pasal 43?45 serta daftar uji terkait, sehingga harus dilaksanakan oleh setiap instansi pemerintah. Sehubungan dengan hal ini, Puslitbangwas BPKP melakukan Kajian Control Self Assessment (CSA) untuk mengetahui dan memahami bagaimana mengembangkan CSA, sebagai metode penilaian mandiri terhadap SPIP dan bagaimana cara menerapkannya.

Dalam kajian ini pengertian CSA, berkaitan dengan SPIP, dirumuskan sebagai suatu kegiatan penilaian risiko dan efektivitas SPIP, yang dilakukan secara mandiri oleh instansi, dengan melibatkan pimpinan dan karyawan dalam suatu workshop yang difasilitasi oleh fasilitator , atau dengan metode lainnya yang sesuai, untuk memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya semua tujuan organisasi.

Tujuan CSA tidak lain untuk menilai efektivitas penyelenggaraan SPIP dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya tujuan instansi.

Selain itu, berdasarkan kajian diketahui banyak keunggulan dan manfaat penggunaan metode CSA sebagai alat penilaian mandiri terhadap efektivitas penyelenggaraan SPIP. CSA juga merupakan terobosan besar dalam paradigma pengelolaan SPIP, yang sebelumnya evaluasi pengendalian intern dianggap hanya urusan APIP dan para pemeriksa ekstern, sekarang bergeser bahwa “evaluasi pengendalian intern merupakan tanggung jawab pimpinan instansi pemerintah.”

Namun demikian, membangun dan menerapkan CSA bukan hal yang mudah, karena paradigma “menilai diri sendiri” bukanlah kultur yang akrab dengan tradisi tata kelola kepemerintahan kita. Oleh karena itu, kajian ini difokuskan untuk menggali bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membangun dan menerapkan CSA pada instansi pemerintah secara tepat dan sistematis. Langkah-langkah tersebut diketahui sebagai berikut:

  1. Tahap Persiapan

  • mempelajari literatur terkait CSA;

  • melakukan studi banding (benchmarking);

  • membuat pedoman yang dapat diterapkan;

  • memberikan pemahaman dan mendapatkan komitmen pimpinan instansi;

  • membangun infrastruktur untuk mengimplementasikan CSA;

  • mengajak serta para APIP untuk membangun CSA;

  • melaksanakan diklat dan TOT untuk mencetak para fasilitator;

  • melaksanakan pilot proyek dan menghasilkan quick win ;

  • Penyempurnaan Pedoman CSA.

  1. Tahap Penerapan CSA

CSA dilaksanakan secara periodik dan sewaktu-waktu (sesuai kebutuhan) . Untuk CSA yang dilaksanakan secara periodik, penilaian mandiri dilakukan oleh setiap pemilik proses (owner risk) dengan mengisi kertas kerja pengendalian intern. Setiap pemilik proses setiap bulan menyampaikan laporan kepada pengendali mutu CSA (setingkat eselon III). Pengendali mutu melakukan penilaian mandiri untuk SPIP yang menjadi tanggung jawabnya dan mereviu laporan CSA dari para bawahannya (pada bulan ke-2). Pada bulan berikutnya (ke-3) melaporkan CSA kepada pimpinan unit kerja. Kepala unit kerja mereviu laporan CSA dari para pengendali mutu dan melaporkannya kepada Pimpinan Instansi pada bulan berikutnya (triwulanan).

Pimpinan Instansi (Gubernur/Bupati/Walikota/Menteri/Ketua Lembaga) mereviu laporan CSA dari unit kerja dan melaporkan CSA secara smesteran. Pimpinan instansi dalam melaksanakan penilaian dibantu oleh sebuah Tim CSA yang bersifat adhoc, yang terdiri atas personil yang kompeten dan memiliki cukup kewenangan.

CSA yang dilaksanakan sesuai kebutuhan, misalnya adanya perubahan signifikan dalam proses bisnis, risiko, strategi, dsb, menggunakan metode team fasilited meeting atau workshop. Team fasilited meeting harus dilaksakanan dengan tahapan yang benar, dimulai dari persiapan, pelaksanaan workshop, dan melaporkan hasil. Persiapan workshop dilakukan untuk mengumpulkan informasi terkait, menyiapkan kertas kerja, memilih perserta dan fasilitator serta tujuan workshop. Tahap pelaksanaan adalah membuat kelompok dan melaksanakan diskusi yang dipimpin oleh fasilitator, untuk menggali risiko dan pengendalian atas permasalahan yang dibahas dan menjadi tujuan diskusi. Sedangkan tahap pelaporan untuk melaporkan penyelenggaraan ( fasilited team meeting) serta hasil CSA kepada pimpinan instansi.

Untuk kedua metode CSA tersebut di atas, harus ditetapkan pula mekanisme penilaian CSA oleh APIP dalam rangka meningkatkan kualitas CSA yang obyektif.

 

Kata Kunci: CSA; SPIP; evaluasi terpisah.


Share