Pusat Penelitan dan Pengembangan Pengawasan

12.0956 - Pedoman Penulisan Artikel Kuantitatif

Mahasiswa  pascasarjana  pada  umumnya  merasa  khawatir  ketika membayangkan  untuk  menyaring  riset  yang  mereka  lakukan  selama setahun  penuh  menjadi  sebuah  artikel  jurnal  sepanjang  20  halaman dengan  ukuran  kertas  A4.  “Itu  tidak  mungkin!”,  “Tidak  akan sanggup!”,  “Tapi  itu  7.000  kata....ya  ampun!”,  mungkin  merupakan reaksi umum seorang  mahasiswa ketika pertama kali ditantang untuk menulis sebuah artikel akademik.

Namun,  Summers  (2002)  menunjukkan  bahwa  Anda  tidak  perlu menjadi  seorang  novelis  atau  seorang  juara  dalam  menulis  (misalnya Pulitzer), atau penyair, untuk dapat melaporkan suatu studi yang telah dikonsep  dan  dilaksanakan  dengan  baik1.  Anda  hanya  perlu  menjaga pandangan  Anda  terhadap  detil  tulisan,  sebab  saat  menulis  suatu artikel akademik, “setannya ada pada detil” (Feldman, 2004).

Maksud dari dokumen ini adalah untuk menjadi pedoman Anda dalam menulis  suatu  artikel  akademik  yang  menguraikan  hasil  atau  laporan suatu studi empiris. Pedoman ini khususnya berfokus pada penulisan hasil  studi  berbasis  survey  (survey-based  research)  yang  melibatkan pengujian statistik atas hipotesis.

Tidak  ada  cara  yang  paling  benar  untuk  menulis  suatu  artikel akademik. Segala kerangka kerja, prinsip, dan contoh-contoh disajikan disini  berdasarkan  pada  artikel  yang  telah  dimuat  dalam  jurnal akademik ternama.  Anda dapat mengadaptasinya dengan  cara memenuhi  persyaratan  khusus  sebagaimana  diminta  oleh  jurnal akademik  atau  pemimpin  studi  bersangkutan.  Dengan  membaca langsung  artikel  asli  yang  ditulis  oleh  Feldman  (2004),  Bern  (2003), Perry,  Carsonn  &  Gilmore  (2003),  Summers  (2001),  Calfee  &  Valencia (2001), dan Varadarajan (1996), Anda mungkin akan menemukan nilai atau saran tambahan yang belum masuk dalam pedoman ini.

Struktur  pedoman  ini  adalah  sebagai  berikut:  bagian  pertama menyediakan  tinjauan/ikhtisar  (overview)  dari  struktur  suatu  artikel jurnal  akademik.  Yang  kemudian  diikuti  dengan  bahasan  detil mengenai tiap bagian utama dari suatu artikel akademik, misalnya: (1) judul, (2) ringkasan, (3) kata kunci, (4) pendahuluan, (5) reviu literatur, (6) metodologi, (7) hasil, (8) simpulan atau diskusi akhir. 

 

STRUKTUR SUATU ARTIKEL JURNAL AKADEMIK

Kesuksesan  atau  kegagalan  suatu  artikel  akademik  ditentukan  jauh sebelum kata pertama ditulis atau kalimat pertama diketik. Itu semua dimulai  dengan  membuat  konsep  awal  (initial  conceptualisation)  dan desain  studi  yang  akan  dilakukan.  Hal  tersebut  dikonfirmasi  oleh Summers  (2001)  yang  memberi  daftar  empat  alasan  mengapa  suatu artikel ditolak oleh jurnal akademik terkemuka:

  1. riset  atau  studi  yang  dilakukan  tidak  memberi  kontribusi  yang cukup  sebagai  bagian  dari  “body  of  knowledge”  suatu  disiplin  ilmu tertentu.  Misalnya  karena  studi  yang  dilakukan  bersifat  deskriptif dan  hanya  meniru  riset  yang  pernah  dilakukan  sebelumnya  tanpa menambah hal baru.
  2. konseptualisasi  kerangka  kerja  (misalnya:  reviu  literatur)  tidak dibangun secara baik. Kurang tepatnya definisi dari konstruk utama, dan memaksakan  (compelling)  suatu  teori  atau  alasan  yang  tidak tepat ke pernyataan hipotesis.
  3. metodologi  yang  digunakan  dalam  studi  tidak  tepat  secara signifikan  (misalnya:  sampel  terlalu  kecil,  atau  kehandalan  dan validitas ukuran yang gunakan meragukan).
  4. gaya  penulisan  laporan  atau  artikel  tidak  teratur  atau  tidak terstruktur secara layak.

 

Fokus bahasan pedoman ini terutama ditekankan pada alasan nomor 4 di  atas  –  gaya  penulisan  yang  tidak  teratur  yang  mengarah  pada struktur penulisan yang tidak layak. Panjang artikel dalam jurnal akademik ternama umumnya sekitar 20-25 halaman  A4  (spasi  1  ½),  atau  sekitar  4.000-7.000  kata.


Share