Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Selatan

SPIP: STRATEGI MENUJU TIPPING POINT

Senin, 28 Maret 2011 | 12:03 WITA

 

oleh: Nur Ana Sejati

“Detikhot, Rabu (12/11/2008), Miles Film mengabarkan kalau LP telah menembus 3,9 juta penonton. Pencapaian angka tersebut melebihi angka penonton yang diraih 'Ayat-ayat Cinta.' Sampai saat ini AAC ditonton 3,5 juta orang.”
LATAR BELAKANG
Siapa yang tak kenal Laskar Pelangi? Kisah sepuluh anak-anak Belitong hasil karya Andrea Hirata itu rupanya mampu menggerakkan jutaan masyarakat Indonesia untuk menonton film berdurasi dua jam tersebut. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang dikantongi oleh Sang Produser. Tak hanya itu, Andrea Hirata pun sejak saat itu menjadi ikon dunia pendidikan. Kisah Laskar Pelangi dianggap mampu membangkitkan semangat anak Indonesia untuk terus berprestasi. Profil ibu Mus, seorang guru yang sederhana yang mendidik kesepuluh anggota Laskar Pelangi tersebut tanpa pamrih, menjadi contoh pendidik yang sejati. Makanya, banyak kepala daerah yang mendorong guru-guru untuk menyaksikan fim tersebut. Harapannya, akan muncul sosok-sosok guru yang mampu menginspirasi anak didiknya sebagaimana Ikal dan kesembilan anggota Laskar Pelangi.
Lalu, apa hubungan antara SPIP dengan Laskar Pelangi?
Laskar Pelangi pada dasarnya adalah sebuah fenomena Tipping Point sebagaimana yang dijelaskan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya. Film Laskar Pelangi digarap dari sebuah tetralogi novel yang juga mengalami tipping point dengan menembus angka penjualan 1,5 juta copy. Angka tersebut adalah sebuah rekor baru dalam penjualan buku di Indonesia. Bahkan hingga saat ini buku tersebut telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Di dunia sastra Indonesia Andrea Hirata bukanlah siapa-siapa. Namanya pun tak bisa disandingkan dengan Sapardi Joko Damono, Ayu Utami, Remy Silado apalagi Rosihan Anwar. Laskar Pelangi hanyalah sebuah kisah hidup penulisnya yang dikemas dalam cerita fiksi. Tapi, mengapa Laskar Pelangi menjadi begitu fenomenal?
SPIP pun pada dasarnya bisa mengalami tipping point sebagaimana Laskar Pelangi. Jika dihitung sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 2008 yang mengaturnya, maka hingga saat ini SPIP telah berjalan selama dua tahun. Namun, sampai dimana hasilnya? Hingga saat ini SPIP masih pada tahap pelaksanaan pemetaan atau diagnostic assessment (DA). Untuk masing-masing Perwakilan BPKP, DA dilaksanakan pada dua pemerintah daerah dengan mengambil sampel dua SKPD pada masing-masing pemda tersebut. Pada saat yang sama, diklat pun baru dilakukan. Di sisi lain, belum seluruh warga BPKP mendapatkan diklat ini.
Tulisan berikut akan mencoba menganalisis dan mengevaluasi strategi-strategi yang telah ditetapkan untuk menerapkan SPIP baik dilingkungan internal BPKP maupun instansi pemerintah lainnya dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Malcolm Gladwell. Selanjutnya, tulisan ini juga akan mencoba memberikan alternatif tindakan agar SPIP bisa mencapai tipping point. Tentu saja efek yang diinginkan setelah SPIP mencapai tipping point tersebut adalah tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara yang ditandai dengan tercapainya tujuan seluruh instansi pemerintah secara kolektif.
SPIP DAN TIPPING POINT
Malcolm Gladwell mengibaratkan tipping point sama dengan proses penyebaran virus influenza yang bisa dengan cepat tersebar luas dalam suatu wilayah. Dalam suatu waktu tertentu virus tersebut bisa menjangkiti seluruh masyarakat yang berinteraksi dengan penderita. Kondisi ini sama dengan penyebaran suatu wabah penyakit. Fenomena sosial pun mengikuti logika yang sama dengan penyebaran sebuah virus. Laskar pelangi pada dasarnya muncul menjadi fenomena mengikuti kaidah di atas. Tipping point Film Laskar Pelangi tak bisa dilepaskan dari tipping Point tetralogi novel yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2005. Sebelum ditayangkannya program Kick Andy yang menghadirkan Andrea Hirata sekitar Desember 2007 atau dua tahun setelah buku tersebut diterbitkan, novel tersebut belum merambah ke masyarakat, meskipun penjualan novel tersebut cukup laris di pasaran. Dalam konteks tipping point yang dikemukaan oleh Malcolm Gladwel, ada tiga hal yang menjadi prasyarat untuk mencapainya, yaitu the law of the few (hukum yang sedikit), stickiness (kelekatan), dan the power of context (kekuatan konteks).
The Law Of The Few
The law of the few mengandung arti bahwa perubahan diinisiasi oleh beberapa orang. Namun, orang tersebut haruslah mempunyai karakteristik sebagai connector, maven, dan salesman. Dalam hal Laskar Pelangi, maka yang berperan untuk menjadikan tipping point adalah program Kick Andy. Program tersebut bisa berperan sebagai connector dan maven. Connector adalah orang yang mempunyai jaringan yang sangat luas sehingga ia bisa menjangkau siapa saja yang akan menjadi sasaran perubahan. Sedangkan maven adalah orang yang mempunyai pengetahuan yang sangat luas tentang apa yang akan dijadikan sebagai tipping point. Peresensi buku, baik itu individu ataupun kelompok-kelompok pecinta buku, berperan besar untuk menjadikan Laskar Pelangi digandrungi masyarakat. Karakteristik terakhir adalah salesman yaitu orang-orang yang mempunyai kemampuan persuasive yang tinggi. Orang ini bisa membuat orang lain membeli suatu produk atau mengikuti sarannya tanpa orang tersebut merasa terpaksa mengikutinya.
Bagaimana keterkaitan antara hukum the law of the few ini dengan SPIP?
Secara ringkas the law of the few meletakkan dasar pada pentingnya peran agent of change, dalam hal ini orang yang membawa wabah atau trendsetter. Dengan kata lain, untuk mencapai tipping point diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai karakteristik connector, maven dan salesman. Untuk membuat SPIP mencapai tipping point, dalam arti terjadi sebuah tren dimana instansi pemerintah berlomba-lomba menerapkan SPIP, dibutuhkan punggawa-punggawa BPKP yang mempunyai tiga karakter di atas. Artinya, mereka mempunyai jaringan yang luas yang bisa ditembus untuk mempengaruhi pemerintah daerah untuk ber-SPIP. Selain itu juga dibutuhkan orang-orang yang mempunyai ke-pakar-an di bidang SPIP yang bisa menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana tentang produk yang akan dijadikan trendsetter tersebut.
Auditor BPKP yang mempunyai ketiga karaktersistik tersebut tentu ada namun, jumlahnya masih sangat terbatas, khususnya yang mempunyai karakter maven. Peran sebagai connector dan salesman bisa dijalankan oleh orang yang tidak terlalu memahami secara mendalam tentang SPIP asal mereka bisa menjalin network dan mampu membuat pemerintah daerah tergerak untuk menerapkannya. Jika ada hal-hal secara teknis tidak mereka kuasai mereka bisa menghubungkan stakeholder dengan maven. Sayangnya, jumlah maven baik di BPKP Pusat ataupun di Perwakilan BPKP masih sangat sedikit.
Stickiness
Stickiness atau kelekatan mengandung arti bahwa suatu produk atau peristiwa akan menjadi sebuah epidemi atau mencapai tipping point jika disampaikan secara berulang-ulang sehingga melekat dalam fikiran semua orang. Dalam hal film Laskar Pelangi, publikasi yang terus menerus yang juga melibatkan tokoh-tokoh pendidikan yang merekomendasikan masyarakat untuk menonton film ini membuat Laskar Pelangi tertanam kuat dalam benak masyarakat.
Dalam rangka penyelenggaraan SPIP di lingkungan Intern telah dilakukan diklat dan SPIP ini telah menjadi word of mouth atau buah bibir bagi seluruh warga BPKP baik di Pusat ataupun Perwakilan. SPIP telah menjadi top of mind buat seluruh warga BPKP. Sedangkan dalam perannya sebagai pembina, BPKP telah melakukan sosialiasi di hampir seluruh pemerintah provinis/kabupaten/kota. Pesertanya pun para eselon I dan II sehingga diharapkan nantinya dapat menyebarkan SPIP kepada seluruh pegawai. Untuk memperdalam pemahaman tentang SPIP, BPKP telah menyelenggarakan diklat selama seminggu untuk beberapa angkatan. sepertinya belum menjadi buah bibir di lingkungan pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), apalagi publik yang akan meminta pertanggungjawaban pemerintah.
Laskar Pelangi mencapai tipping point setelah ditayangkan melalui program Kick Andy yang sudah dikenal dan merupakan program yang mendapat rating tinggi menurut penilaian masyarakat. SPIP pun bisa mengalami hal yang sama jika secara terus menerus disampaikan melalui media sehingga melekat di benak seluruh masyarakat.
The Power of Context
Dalam menerangkan the power of context atau kekuatan konteks ini Gladwel menggunakan teori broken window yang dikemukakan oleh James Q Wilson dan George Kelling (Gladwell, 2007). Inti dari unsur ini adalah bahwa perusakan atau pelanggaran yang kecil jika dibiarkan akan merajalela menjadi kejahatan yang besar. Seseorang akan melakukan sesuatu tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapinya. Jika ia berada dalam lingkungan yang baik maka cenderung menjadi orang yang baik. Sebaliknya jika ia berada yang buruk potensinya menjadi buruk jauh lebih besar dari pada ketika ia berada di lingkungan yang baik. Suatu pesan, tindakan, kejahatan atau produk akan mengalami tipping point ketika kondisi mendukung untuk terjadinya hal tersebut. Film Laskar Pelangi mengalami tipping point lebih karena dua unsur diatas yaitu the law af the few dan stickiness, bukan pada the power of context. Korupsi di Indonesia terjadi karena pembiaran hal-hal kecil sehingga opini masyarakat terhadap korupsi pun berubah.
Dalam konteks SPIP, inilah yang disebut sebagai lingkungan pengendalian. Lingkungan pengendalian yang baik akan mendorong pegawai untuk mematuhi kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. Sehingga, celah-celah untuk melakukan pelanggaran sangat kecil karena adanya kondisi yang mendukung pegawai tersebut untuk patuh. Sebaliknya, pembiaran terhadap perilaku yang tidak berintegritas akan mendorong pegawai lain untuk melakukan tindakan yang serupa.


PENUTUP
Amanah SPIP sungguh teramat berat meskipun bukan tidak mungkin untuk ditunaikan. Fenomena Laskar Pelangi memberikan pelajaran yang sangat berharga bagaimana menyusun strategi agar terjadi percepatan implementasi SPIP baik di lingkungan internal maupun eksternal. Investasi pada intangibles baik itu pada stakeholder ataupun pada SDM merupakan satu hal yang mutlak dilakukan. Pegawai yang professional dan berintegritas adalah perwujudan dari pembangunan sebuah lingkungan pengendalian yang akan mencegah individu untuk melakukan pelanggaran sebagaimana Gladwell menyebutnya sebagai the power of context.
Untuk menciptakan kondisi ini dibutuhkan strategi pengembangan SDM yang terintegrasi dalam perencanaan strategis organisasi sehingga para pemimpin baik dari level pengendali teknis, kepala bidang dan seterusnya adalah mereka yang benar-benar mempunyai kualifikasi untuk menjabatnya. Mengapa? Karena dalam SPIP sendiri tone of the top memegang peranan yang penting untuk keberhasilan pencapaian penyelenggaraan SPIP. Secara lebih teknis, perlu di susun pemetaan SDM yang bisa memotret kelemahan dan keunggulannya yang akan digunakan dalam perencanaan penempatan pegawai-pegawai sesuai dengan kapabilitasnya.
Penulis adalah salah satu PFA bidang APD yang menyelesaikan Master of Public Administration di Australia National University pada tahun 2007)

REFERENSI
1. Kasali, R 2010, Myeline: Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
2. Gladwell, M 2007, The Tipping Point, Bagaimana Hal-Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Sumber: Bulletin Paraikatte Vol. 11

 


Share   

 



 


Jln. Tamalanrea Raya No.3
Bumi Tamalarea Permai (BTP) Makassar
Kotak Pos 176 Telp. 0411-590591;590592,
Fax : 0411-590595 E-mail : sulsel@bpkp.go.id