Perwakilan BPKP Provinsi Riau

Berita Seputar Perwakilan BPKP Provinsi Riau

Makna “Pengawasan” Dalam Ceramah Ramadhan di Masjid BPKP Riau
22 Mei 2018 09:13:34 / riau / dibaca: 252 kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial

Memulai Ramadhan, BPKP Perwakilan Riau menyelenggarakan pengajian ba'da Dzuhur. Pengawasan menjadi acuan dalam ceramah hari pertama Ramadhan di masjid yang berada di dalam area kantor BPKP Riau itu.

Muroqabah adalah hati, perasaan, dan pikiran, yang selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah. Inilah pengawasan dari Allah yang harus kita sadari. Dengan merasa diawasi, mustahil seorang bertakwa berani berbuat melanggar perintah-Nya. Sehingga, dengan merasa diawasi itu, seharusnya mereka yang merasa dirinya telah bertakwa tidak akan berani melakukan korupsi ataupun hal lain yang dilarang Allah,” demikian dikatakan Ustadz Drs. Amri Almi, MSi, ba'da Sholat Dzuhur hari Kamis awal Ramadhan 1439 H yang bertepatan dengan 17 Mei 2018 di Mesjid BPKP Riau, Pekanbaru.

Hadir pada saat itu Kepala Perwakilan BPKP Riau Dikdik Sadikin, Ketua Badan Amalan Islam (BAI) Masjid BPKP Riau Zulheri, dan para pegawai BPKP Riau jama’ah Shalat Dzuhur. Kebetulan, Masjid BPKP Riau tempat Ustad Amri berceramah saat itu memang bernama Muroqabah, yang berarti merasa diawasi Allah.

Maka, di Masjid Muroqabah BPKP Riau itu, mengutip nasihat Syeikh Abdullah Nasih ‘Ulwan, Ustadz pun menyampaikan bahwa Muroqabah itu adalah satu dari di antara lima perkara,  yang dapat meningkatkan ketakwaan.

Lima perkara itu selengkapnya:

“Pertama adalah Mu’ahadah. Artinya, menepati janji kepada Allah SWT.

Setiap manusia yang akan dilahirkan ke alam dunia, ketika masih di alam ruh, sesungguhnya telah membuat perjanjian dengan Allah,” demikian dikatakan Ustad Amri Ulmi. “Kontrak tauhid antara Allah dan ruh kita itu tercantum dalam QS Al-A'raf ayat 172. ‘Bukankah aku ini Tuhanmu?’ (Alastu bi robbikum?). Dan waktu itu kita menjawabnya 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi' (Bala sahidna..)”.

Ketika sudah terlahir ke dunia dan telah datang kewajiban untuk melakukan shalat, janji itu tersambung dalam doa iftitah di shalat kita yang seperti ikrar, “Bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah Rabbil 'Alamiin”.

Janji itu juga tersirat dalam surah Al-Fatihah yang selalu kita baca dalam shalat,  dengan pernyataan kita kepada Allah bahwa “Hanya kepada Engkau (Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkau (Allah) kami mohon pertolongan.”

Maka, ketika kontrak sudah dibuat, janji sudah disepakati, bahkan kita ikrarkan setiap shalat, maka tinggallah kita nanti akan diminta pertanggungjawaban dengan janji itu di hadapan Allah, sebagaimana Firman Allah “...dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra:34).

Kedua, Muroqabah. Seperti yang telah disampaikan di atas, muroqabah adalah hati, perasaan, dan pikiran, yg selalu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah.

Rasulullah bersabda yang artinya:

"Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya (karena memang engkau tidak akan bisa melihat-Nya), sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim).

Ketiga,  Muhasabah

Muhasabah adalah mengintrospeksi diri, menghisab dan menghitung-hitung diri serta mengevaluasi diri. Sampai sejauh mana ketaatan kita, kuantitas dan kualitas amal ibadah kita, sebelum hisab yang sesungguhnya nanti menanti kita di akhirat.

Allah berfirman yang artinya:

1. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18).

2. “Hingga apabila telah  datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu hanyalah dalih yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun: 99-100).

Rasulullah bersabda yang artinya:

“Orang yang pandai adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sedang orang yang lemah adalah orang yang jiwanya selalu tunduk pada nafsunya dan mengharap pada Allah dengan berbagai angan-angan.”(H.R Ahmad dan Tirmidzi).

Ke empat, Mu'aqabah

Mu’aqabah adalah memberikan sanksi kepada diri ketika kita melakukan sebuah kelalaian yang dapat melemahkan derajat ketakwaan kita. 

Umar bin Khattab r.a. pernah terlalaikan dari menunaikan sholat zuhur berjamaah di masjid karena sibuk mengawasi kebunnya. Lalu karena dia merasa ketertambatan hatinya kepada kebun dapat melalaikannya dari bersegera mengingat Allah, maka dia pun cepat-cepat menghibahkan kebun itu beserta isinya untuk keperluan fakir miskin.

Tentunya dalam memberikan sanksi kepada jiwa kita haruslah dengan perkara-perkara yang sesuai dengan syariat dan tidak melampaui batas, adapun perkara yang di luar dari itu maka tentunya tidak diperbolehkan.

Kelima, Mujahadah

Mujahadah berarti bersungguh hati dalam melaksanakan semua perintah Allah, menuntut ilmu agama, beribadah dan beramal shaleh dengan kualitas yang terbaik dan kuantitas yang maksimal, serta bersungguh-sungguh pula dalam menjauhi semua larangan Allah.

 Allah berfirman yang artinya:

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 5).

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3).

Humas BPKP Riau/Zulheri



Share      

Berita Terkait:

06 Agustus 2018 09:37:21 / riau / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
Kaper BPKP Riau Lepas Empat Pegawai
29 Juni 2018 08:53:45 / riau / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
BERPAKAIAN ADAT MELAYU, PARA PEGAWAI BPKP RIAU SELENGGARAKAN HALAL BI HALAL
28 Juni 2018 15:21:43 / riau / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
BPKP Diharapkan Turut Dukung Muatan Lokal Budaya Melayu di Riau
08 Juni 2018 11:25:53 / riau / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
Bersama Khatamkan Al Qur\'an, Para Pegawai BPKP Riau Dipesankan Optimalkan Berkah di Ujung Ramadhan
06 Juni 2018 13:54:25 / riau / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
E-Samsat Riau, Nostalgia dan Mimpi Plt Gubernur Riau Bersama BPKP yang Kini Terwujud


 


 

Selembayung Pengawasan