Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Polhukam PMK

Pemimpin yang Mencerahkan

PEMIMPIN YANG MENCERAHKAN

 

Sobat yang sangat memotivasi !!!

 

Tersentak kita mendengar berita seorang Dahlan Iskan, Menteri BUMN dan mantan Dirut PLN yang turun dari Mercedes Benz-nya untuk kemudian meng-handle bottlenecking yang mengular hingga puluhan kendaraan di mulut tol Semanggi. Namun apabila kita paham sosok beliau yang tak pernah menggunakan voorriderjs untuk memandu kendaraan dinasnya, yang mengedepankan kesederhanaan baik dalam bersikap maupun berfikir, maka kita tidak terlalu heran dengan kiprah lelaki kelahiran Magetan yang bahkan tidak tahu persis kapan bulan kelahirannya itu.

 

Sobat! Dahlan Iskan adalah potret pemimpin yang berfikir out of the box, yang tidak mau terbelenggu dengan sekat formalitas jabatan dan eselonisasi, yang mementingkan substansi ketimbang packaging. Tak heran, beliaulah satu-satunya menteri yang saat pelantikan sebagai menteri menggunakan sepatu kets hitam dan kemeja putih, yang memilih naik motor mahasiswa daripada Volvo yang disediakan panitia untuk mengejar jadwal pesawat, dan memilih makan siang di kantin Kementerian BUMN daripada menerima undangan lunch direksi perusahaan terkemuka.

 

Lihat bagaimana sikap lulusan pesantren Sabilil Muttaqien Magetan ini yang mengkombinasikan antara luapan ekspresi kegeraman dan kesabaran menghadapai suatu ketidakbecusan. Saat melihat sikap tidak profesionalisme petugas penjaga tol, Dahlan dengan tepat mengartikulasikan apa yang disebut dengan “intervensi”. Namun di lain waktu, apa yang dilakukannya untuk membenahi PT Merpati Nusantara Airlines yang bak benalu senantiasa merugi miliaran rupiah? Apakah dia mengeksekusi keputusan dari balik meja atau memanggil Direksi Merpati ke kantornya? Atau bisa saja dia menutup perusahaan tersebut, atau memberikan sanksi tegas pada jajaran manajemennya. Toh dia adalah Menteri BUMN, yang notabene punya kewenangan penuh untuk mengeksekusi BUMN sakit.

 

Tidak sobat! Dia tidak ambil cara gampang namun tidak memberikan solusi konstruktif seperti itu! Selaku pemimpin, dia sangat yakin dengan kemampuan bawahannya dan mengambil sikap positif. Pasti banyak yang sudah tahu, langkah jitu yang ditempuhnya selaku newcomer menghadapi peliknya masalah di perusahaan pelat merah tersebut. Terkadang diperlukan rangsangan material untuk melahirkan ide kreatif. Yup!! Menteri tersebut datang ke kantor Merpati, sekali lagi datang, dan mengajak seluruh elemen untuk berfikir bersama dan menantang sense of belonging mereka terhadap perusahaan yang merugi empat miliar setiap bulannya. Dahlan menjanjikan mobil Avanza bagi siapa saja yang memiliki ide brillian. Apa dananya diambil dari DIPA kantor, eh maksudnya kas perusahaan? Tidak sobat! murni dari kantong pribadi!

 

Sobat yang luar biasa!!

 

BPKP punya nilai-nilai luhur yang dikemas dalam akronim apik, PIONIR. Salah satu elemen pentingnya adalah Integritas. John C. Maxwell (2007), secara kontras mendefinisikan perbedaan antara citra atau image dengan integritas. Menurut Maxwell, dalam konteks kepemimpinan, citra merupakan apa yang orang lain pikirkan tentang kita (sebagai seorang pemimpin). Sedangkan integritas adalah kenyataan tentang siapa kita (sosok pemimpin tersebut) yang sesungguhnya. Masalahnya, banyak pemimpin di Indonesia yang mengedepankan pencitraan dibandingkan integritas. Ibarat ponsel, mereka sibuk mempercantik casing dibanding keawetan dan fungsi demi raihan popularitas. Ketika Dahlan memilih tidur beralaskan tikar di rumah warga di Desa Triharjo Wates sebelum memberikan kuliah terbuka di UGM, saat dia memilih tidak menerima gaji sebagai Dirut PLN, atau naik ojek dari stasiun untuk mengejar Rapat Paripurna di Istana Bogor, apakah itu untuk meraih popularitas? Wallahu ‘alam.

 

Sobat! publik terhipnotis pada model leadership Dahlan yang melawan mainstream kepemimpinan. Beliau secara fleksibel mampu merefleksikan pilihan keputusannya sesuai dengan timing dan kondisi. Saat pertama kali menduduki posisi puncak di PLN, beliau punya target tinggi dan langsung full speed membenahi BUMN yang diplesetkan menjadi Perusahan Lilin Negara (karena seringnya mati lampu) tersebut. Hasilnya? PLN bebas dari byar pet, kinerja keuangan melesat selama semester pertama, dan rencana strategis konversi sumber energi batubara.

Tetapi, apakah hari-harinya di PLN diwarnai dengan rapat berjam-jam yang diliputi suasana ketegangan? Atau berlembar-lembar memo dan disposisi yang menandakan seorang CEO yang berkuasa? Tidak sobat! menurut pengakuan anak buahnya, ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang menyenangkan, bukan arena penghukuman. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. Saat yang sama, dalam berbagai forum, beliau selalu membanggakan kualitas personal PLN. Kata mantan wartawan ini, orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi perusahaan sekaligus tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. Yang tidak ada pada mereka adalah muara!

 

Bagi Dahlan, inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Dan orang yang terlalu sering diberi pidato kelak hanya bisa minta petunjuk! Beliau sangat yakin akan kemampuan jajarannya, pengalaman kerjanya, background skill anak buahnya. Banyak ide bagus justru datang dari orang bawah yang langsung bekerja di lapangan. Bukan dari konseptor yang bekerja di belakang meja.Tugas beliau hanyalah memberikan saluran yang pas, menciptakan suasana yang kondusif, dan menghadirkan apresiasi yang membanggakan!

 

Sobat! hal menarik lainnya dari sosok mantan CEO Jawa Pos Network News (JPNN) yang memiliki ratusan media cetak dan radio ini adalah dia layaknya manusia yang terlahir kembali (reborn)! Persis lima tahun lalu, beliau melakukan operasi cangkok hati di negara tirai bambu. Sampai akhir hayatnya, dia tak akan lepas dari yang namanya Lamifudin, agar liver yang sudah terjangkit hepatitis B tidak terkena sirosis yang akhirnya mengarah ke kanker hati. Harganya ? bisa mencapai sejuta untuk pemakaian selama sebulan. Karena itulah, dia mendorong Kimia Farma untuk memproduksi obat serupa dengan harga terjangkau, sebab beliau sangat paham, di Indonesia ada sekitar 20 juta orang yang bernasib sama seperti dia, namun dengan strata ekonomi berbeda. Luar biasa! Hasilnya, kini telah ada Heplam, pengganti Lamifudin dengan khasiat yang sama namun cukup diperoleh hanya dengan Rp150 ribu sebulan!

 

Sobat yang sangat memotivasi!!

 

Tentu semua kita ingin menjadi leader, di level manapun atau dalam kapasitas apapun. Tapi sebelum itu, ada baiknya kita menyimak substansi pidato tanpa teks Dahlan Iskan saat dilantik menjadi menteri BUMN :

 

“Menjadi pemimpin itu dianggap enak. Menjadi pemimpin itu dianggap bisa berkuasa. Tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemimpin yang baik sebenarnya harus pernah membuktikan dirinya pernah menjadi orang yang dipimpin. Ketika menjadi orang yang dipimpin itu, dia juga bisa menjadi orang yang dipimpin dengan baik. Artinya, untuk bisa menjadi pemimpin yang baik harus pernah menjadi anak buah yang baik. Menjadi anak buah yang baik itu adalah anak buah yang loyal tetapi juga kritis. Anak buah yang selalu bisa memberikan jalan keluar kepada atasannya. Anak buah yang bisa memberikan pemecahan masalah bagi atasannya. Nah… kalau seseorang itu pernah menjadi anak buah yang baik, dan dalam kurun waktu yang cukup, maka kelak ketika dia naik menjadi pemimpin, dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik”

 

Kini, dengan “hati” baru milik seorang pemuda Cina berusia 21 tahun, menteri 61 tahun yang tak malu menumpang KRL Commuter Line Jabodetabek untuk mengejar rapat di Istana Bogor ini menghadirkan gaya kepemimpinan yang khas: fokus namun fleksibel, punya visi, dan kaya ide berselimutkan kesan kesederhanaan. Seolah keberadaannya yang bertekad membawa perusahaan pelat merah menjadi world class company ini layaknya oase dalam model kepemimpinan di Indonesia yang kaya dengan teori namun miskin aplikasi. Semoga inspirasi yang dia berikan, semangat yang ditularkan, dan manajemen harapan yang ditanamkan memberikan dimensi baru akan arti sebuah kepemimpinan.


 

Sharing is caring, ayo terus berkarya!!

 

Yan Eka Milleza - mario

 


Share