Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Polhukam PMK

Sukses yang Beracun !

Sobat yang sangat inspirasional !!!

Masih terngiang di telinga kita kepergian Whitney Houston, diva pop dunia pemilik suara 5 oktaf secara mendadak (11/02) yang dimakamkan seminggu kemudian. Meninggalnya Houston dalam bak mandi kamarnya, hanya berselang sehari sebelum penyerahan Grammy Award yang berlangsung di Beverly Hills Hotel California. Dalam dunia musik hiburan, penyanyi sekaliber Christina Aguilera dan Mariah Carey pun menjadikan sukses Whitney Houston sebagai sumber inspirasi. Dia bakat yang lahir dalam kebesaran, putri dari penyanyi gospel Cissy Houston, sepupu diva pop era 1960-an Dionne Warwick, dan anak baptis dari penyanyi kondang Aretha Franklin.

Sayangnya, Whitney Houston meninggal dengan cara misterius layaknya legenda pop dunia, Michael Jackson.Ditemukan fakta bahwa, dalam kamarnya ditemukan obat-obatan seperti Lorazepam, Valium, dan Xanax yang akan sangat berbahaya bila bercampur dengan miras. Yup! kemungkinan besar kombinasi antara ketiganya dengan alkohol yang baru ditenggaknya telah menghantarkan Whitney kepada al-maut.


Sobat! Whitney Houston sepertinya  memiliki jalur keberuntungan, saat album pertamanya (1985) yang bertitel sama dengan namanya, Whitney Houston, begitu fenomenal dalam peluncurannya seperti menunjukkan bakatnya sebagai seorang superstar. Terbukti, dengan 12 juta kopi terjual, album tersebut dapat mengantarkan tiga buah single-nya menempati posisi puncak tangga lagu Billboard Hot 100 America. Pujian tehadap karakter vokalnya cukup diwakili oleh majalah Rolling Stones, "With her sleek beauty and her great voice, Whitney Houston is obviously headed for stardom." (dengan suaranya yang begitu halus dan indah, Whitney Houston sangat jelas menapaki jalan menjadi bintang).


Pada tahun berikutnya tepatnya pada 1987 lewat albumnya yang bertajuk 'Whitney' Houston mendapatkan penghargaan multiplatinum. Tak hanya di dunia musik tetapi Whitney juga menunjukkan bakatnya di dunia seni peran lewat debut film pertamanya 'The Bodyguard' bersama aktor Kevin “Robin Hood” Costner.


Tahun 2000 ia meraih penghargaan Grammy Awards-nya yang ke-6 untuk kategori "Best Female R&B Performance". Sebulan kemudian, dia dianugerahi predikat artis terbaik sepanjang dekade di penghargaan musik “Soul Train”. Bisa dibayangkan berapa pendapatan Whitney. Kontraknya bernilai jutaan dollar, bahkan dikabarkan pada 2001 Whitney menandatangani kontrak rekaman terbesar sepanjang sejarah senilai US$ 100 juta atau sekitar Rp 898 miliar!


Popularitas sudah diperoleh, kekayaan telah direngkuh, posisi puncak telah diraih, dan penggemar menggilainya sebagai seorang artis yang mencerahkan. Shortly, kesuksesan pun telah berada dalam genggaman. Bahagiakah Whitney? Sebentar dulu, sobat! Dalam perjalanan waktunya, Whitney ternyata berteman akrab dengan rokok, bahkan tergolong pecandu hingga akhirnya divonis mengidap Emfisema. Emfisema merupakan penyakit paru-paru kronis yang ditandai kerusakan jaringan, sehingga paru-paru kehilangan elastisitas.  Tak hanya itu, Whitney juga menjadikan alkohol dan obat penenang sebagai pelarian saat diterpa stress dan kelelahan yang amat sangat.


Begitu dalamnya keakraban Whitney dengan narkoba dan alkohol hingga menjadi langganan pusat rehabilitasi. Enam tahun pernikahannya dengan Bobby Brown (1992-1998), cukup menunjukkan betapa Brown sangat mewarnai hari-hari kelam Whitney. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, pesta miras dan narkoba, hingga berubahnya tabiat Whitney menjadi temperamental dan kampungan. Bak lilin, lama kelamaan sinar Whitney yang pernah berjuluk “the Voice” semakin meredup. Finally, kita mendengar kabar bahwa Whitney berada di ambang kebangkrutan, hingga dia meng-ijon enam albumnya untuk dibayar di muka.


Sungguh, bukan kesuksesan yang seperti ini yang diimpikan oleh Whitney. Kesuksesan yang berakhir tragis, kesuksesan yang melahirkan duka, dan kesuksesan yang berujung kepedihan. Sang diva yang memiliki sex appeal namun tak pernah menampakkan sisi sensualitasnya secara vulgar ini, harus mengakhiri hidupnya dalam sebuah bath up, tempat yang harusnya melahirkan ketenangan dan rasa nyaman.


Sobat! Ada tiga macam kesuksesan menurut ahli psikologi: sukses-pahit (bitter success), sukses-beracun (toxic success) dan sukses-bermakna (meaningful success). Orang dinilai sebagai sukses-pahit, apabila kesuksesannya membawa penderitaan bagi sesamanya. Dia memang sukses, tetapi orang lain yang harus membayar mahal untuknya. Sementara sukses-beracun terjadi ketika kesuksesannya justru membawa bencana bagi dirinya sendiri. Sedangkan sukses-bermakna sangat sulit dicapai, karena mencapai sukses merupakan kombinasi sumber kebahagiaan bagi diri-sendiri, orang lain bahkan masyarakat luas.


Sukses beracun ternyata tidak dapat membeli kebahagiaan. Tapi anehnya, gejala inilah yang sekarang banyak menyebar di dunia modern tetapi malah dianggap sesuatu yang normal-normal saja. Sukses beracun, justru banyak diburu. Bahkan untuk mencapainya, banyak orang yang harus kehilangan waktu untuk keluarganya, kerabatnya dan yang lebih sering adalah kehilangan waktu untuk Tuhan Yang Menciptakan Kesuksesan itu sendiri. Masalahnya,  kesuksesan sudah terlanjur ditafsirkan dengan ukuran yang begitu kasat mata (lahiriyah) yakni yang berlambang jabatan, kemakmuran, dan kekayaan. Tak akan disebut sukses seorang pegawai bila tidak menduduki jabatan struktural atau pangkat tertentu. Tak akan sukses seorang pengusaha bila perusahannya tidak menghasilkan return yang luar biasa. Ya, virus kesuksesan telah menjangkiti manusia di muka bumi, sehingga orang-orang berlomba mengejarnya. Sukses diinterpretasikan bahwa manusia akan terasa berharga, terhormat, pintar dan bermartabat.


Padahal menurut Tharik M. Suwaidan, pakar motivator, sukses adalah sesuatu yang tidak kasat mata, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak terkandung dalam keaneka ragaman kekayaan, dan tidak juga bisa dibeli dengan harta benda. Kesuksesan itu bersifat internal dan terdapat dalam relung hati manusia. Boleh jadi yang mendapatkan kesuksesan itu adalah yang cukup puas asal bisa hidup  mandiri, tidak menjadi parasit, dan bisa berekspresi secara merdeka. Ukuran kesuksesan bukan pada posisi jabatan yang kita miliki melainkan pada seberapa bagus kita menjalani pekerjaan amaliah kita, bagaimana melaksanakan ikhtiar  di atas rel yang positif  dan dapat mensyukuri apa yang dimiliki.


Hakekatnya yang kita cari dalam kesuksesan adalah kebahagiaan. Maka pertanyaannya, Apakah menjadi orang bahagia harus terlebih dahulu menjadi orang sukses ?Kita berharap akan bahagia bila sukses ada di genggaman kita. Benarkah ? Ternyata tidak. Tengok saja orang-orang yang katanya sudah sukses itu berbondong-bondong mengikuti majelis-majelis zikir maupun ceramah yang diharapkan dapat memberikan kebahagiaan bagi jamaahnya


Sobat! Kisah Whitney Houston memberi kita pelajaran betapa posisi di puncak ketenaran yang tidak didukung "karakter bintang" akan membuat kehidupan tidak bahagia. Mahatma Gandhi memberi kita definisi hidup bahagia. "Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony". Apa yang kita pikirkan, ucapkan, lakukan selalu hamonis. Sudahkah kita melakukannya?


Whitney telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Lagu-lagunya akan abadi di hati banyak orang. Namun, pengalaman pahit hidupnya menjadi peringatan dan ibrah  berharga bagi umat manusia. Tentu kita semua ingin sukses, namun sukses yang mencerahkan, sukses yang menginspirasi orang lain, dan sukses yang memberikan kedamaian dan kebahagiaan…Kalau rekans sekarang belum sukses, belum memperoleh semua atau sebagian besar dari apa yang dihajatkan, kita masih bisa berbahagia, asalkan mau bersyukur dengan ikhlas dan pasrah terhadap apapun yang kita miliki. Lebih-lebih, apabila sukses telah berada dalam genggaman, sangat layak bagi kita untuk banyak bersyukur sehingga kita memperoleh predikat “sukses dan bahagia“. Sobat! Sukses (yang bermakna) adalah milik anda !!!


Sharing is caring …..ayo! tetap berkarya

Yan Eka Milleza-permina


Share