Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Barat

Berita Seputar Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Barat

Insentif Perpajakan untuk Mendorong Investasi
29 Agustus 2019 14:39:47 / ntb / dibaca: 104 kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial

Mataram (27/8), Kantor Perwakilan BPKP NTB kembali mengadakan acara Library Cafe pada hari Selasa, 27 Agustus 2019. Acara yang diadakan di siang hari tersebut terasa meriah karena dihadiri oleh perwakilan dari Bank Indonesia NTB, Kanwil DJPB NTB, Kanwil DJP Nusa Tenggara, Itwasda Polda NTB, Bappeda NTB, serta DPMPTSP NTB. Acara dibuka dengan sambutan hangat Kepala Perwakilan BPKP NTB Agus Puruhitaarga Purnomo Widodo yang juga berperan sebagai host dan dilanjutkan dengan satu lantunan lagu dari band akustik BPKP NTB.

Tema yang diusung dalam Library Cafe NTB series 12 kali ini adalah “Sosialisasi PP 45 Tahun 2019 tentang Insentif Fiskal untuk Investasi” yang diisi oleh influencer Gunawan Pribadi. Gunawan saat ini menjabat sebagai Asisten Deputi Fiskal Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Gunawan yang pada tahun 2010 menjabat sebagai Senior Advisor to Executive Director The World Bank, akan berbagi pengetahuan (sharing knowledge) seputar pertumbuhan ekonomi, insentif investasi, dan insentif fiskal dalam PP 45 Tahun 2019.

Gunawan menyatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 ditargetkan sebesar 5,3 persen, sedangkan realisasi pertumbuhan ekonomi semester 1 tahun 2019 berada di level 5,07 persen. Peluang untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen salah satunya dengan mengandalkan investasi. “Bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen, yang berhubungan dengan kebijakan investasi menjadi sangat penting. Pemerintah sudah berupaya agar investor menanamkan modalnya di Indonesia melalui kebijakan insentif perpajakan untuk investasi,” ujarnya menambahkan.

Gunawan menuturkan pemerintah sudah memberikan insentif perpajakan untuk investasi melalui insentif tax allowance. Penerima tax allowance sudah diatur dalam Pasal 31A UU PPh. Skema yang diberikan yaitu pengurangan penghasilan neto sebesar 30 persen dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama 6 tahun, atau masing-masing sebesar 5 persen per tahun. “Selain tax allowance, sekarang ini insentif perpajakan yang diberikan kepada dunia usaha adalah tax holiday yang diatur dalam PMK Nomor 35 Tahun 2018 dan PMK Nomor 150 Tahun 2018,” ujar Gunawan.

Sejak berlakunya PMK Nomor 35 Tahun 2018 dan PMK Nomor 150 Tahun 2018, fasilitas tax holiday telah diberikan kepada 35 Wajib Pajak. Kelompok industri yang diberikan fasilitas tax holiday meliputi enam belas Wajib Pajak industri infrastruktur ekonomi, tiga belas Wajib Pajak industri logam, dan enam Wajib Pajak industri kimia. Dengan adanya fasilitas tax holiday terdapat rencana penanaman modal sebesar Rp446,1 Triliun dengan penanaman modal terbesar mencapai Rp56 Triliun. Penanaman modal dimaksud diperkirakan akan menyerap 25.120 tenaga kerja.

Dengan pertimbangan untuk mendorong investasi pada industri padat karya, mendukung program penciptaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja Indonesia, mendorong keterlibatan dunia usaha dan dunia industri dalam penyerapan sumber daya manusia yang berkualitas, meningkatkan daya saing serta mendorong peran dunia usaha dan dunia industri dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019. Peraturan tersebut merupakan Perubahan Atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan.

Menurut Gunawan, PP 45 Tahun 2019 mengatur pemberian insentif super deduction sebesar 200 persen bagi pelaku usaha dan pelaku industri yang melakukan kegiatan vokasi. Selain insentif tersebut, dalam PP tersebut juga diatur kebijakan insentif super deduction untuk kegiatan penelitian dan pengembangan sebesar 300 persen. Tak hanya itu, insentif investment allowance juga diberikan untuk industri padat karya yang memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Di akhir sesi, Gunawan menjelaskan tentang Online Single Submission (OSS) yang merupakan sistem yang mengintegrasikan seluruh pelayanan perizinan berusaha yang menjadi kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga, Gubernur, atau Bupati/Walikota yang dilakukan melalui elektronik (online). OSS bertujuan untuk memudahkan perizinan berusaha, memberikan kepastian hukum bagi investor, meningkatkan investasi baik PMDN maupun PMA, meningkatkan industri dan kinerja ekspor, serta menciptakan lapangan pekerjaan.     

Paparan dari Gunawan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang disambut dengan antusias oleh seluruh peserta Library Cafe. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh peserta Library Cafe dan dijawab dengan jelas oleh Gunawan. Semoga sharing knowledge yang diberikan influencer dapat bermanfaat. Sampai jumpa di acara Library Cafe BPKP NTB berikutnya!

(Tim Humas BPKP NTB/ZPC)



Share      

Berita Terkait:

28 Agustus 2019 07:45:01 / ntb / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
Kemeriahan HUT ke-74 RI di BPKP NTB
28 Agustus 2019 07:44:48 / ntb / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
Mengatasi Permasalahan Sampah dan Inklusi Keuangan di Indonesia
17 Juli 2019 23:16:39 / ntb / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
PELANTIKAN DAN PISAH SAMBUT PEJABAT PERWAKILAN BPKP PROVINSI NTB JULI 2019
25 April 2019 15:53:41 / ntb / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
PELANTIKAN DAN PISAH SAMBUT PEJABAT PERWAKILAN BPKP PROVINSI NTB APRIL 2019
19 April 2019 05:46:02 / ntb / dibaca: kali / Kat: Kegiatan Sosial, Seremonial
Soft Launching Masjid Al Muqaddim BPKP NTB


                              

                               


 

                  Online                      


                              

                              


 

                     Online                    

  

 

 

 

 

 


 

                     Online                    

  

 

 

 

 

 


         


                              

                              

 


                       Online