Irjen Kemenhub Imbau Auditor Tingkatkan Early Warning System

Irjen Kemenhub Gede Pasek Suardika mengatakan bahwa pengertian pengawasan intern harus dipahami oleh setiap auditor intern sebagai sebuah pengendalian berdasarkan penilaian risiko semenjak perencanaan. Meskipun dirinya sebelumnya bukan berasal dari kalangan auditor, tetapi sebagai mantan orang perencanaan, Gede paham betul pentingnya pengendalian sejak perencanaan. Itu sebabnya, di kantornya perencanaan menjadi perhatian khusus, terutama apabila ada ditemukan hal dan angka-angka yang ganjil.

Terkait dengan penanganan Pandemi COVID-19, dikatakan Gede, kondisi ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi pengawasan intern. Semenjak dari refoccusing kegiatan dan realokasi anggaran, pengadaan, pemberian bantuan sosial, sampai kepada pemulihan ekonomi nasional, semua rangkaian kegiatan itu menuntut kehadiran pengawasan intern.

Dicontohkan, pengawasan di instansinya terkait penanganan Pandemi COVID-19, dilakukan dari yang berskala nasional bahkan global, seperti mendorong bergeraknya transportasi darat laut dan udara guna mengerakkan kembali roda perekonomian, sampai kepada hal detail dan operasional, seperti pembiayaan untuk penyemprotan setiap bus antarkota yang lewat, penyediaan hand sanitizer untuk para penumpang dan seterusnya, yang semuanya dianggarkan dan menjadi tanggungan pemerintah.

Menegaskan penyampaian Pak Irjen, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Pontianak Stanislaus Wembly Wetik, yang mendampingi Pak Irjen saat itu, mengatakan bahwa BPKP dengan perwakilannya menjadi strategis. Keberadaan perwakilan BPKP di setiap provinsi di seluruh Indonesia menjadikan BPKP tulang punggung pengawasan intern baik dari kementerian, lembaga maupun pemda sendiri. Kemanfaatan BPKP dalam posisi itu semakin terasa dalam konteks pelaksanaan pengawasan secara early warning yang terintegrasi dengan kegiatan. Untuk itu, dirinya akan senantiasa berkoordinasi dengan Perwakilan BPKP Kalbar, antara lain berkonsultasi apabila ada hal-hal yang masih belum jelas atau ragu.

Kehadiran dan kemanfaatan BPKP sangat dirasakan oleh Irjen Kemenhub. Sebagai “orang baru” di pengawasan, Gede Pasek merasa diapresiasi kehadirannya di kalangan BPKP dan APIP lainnya. Bergabung dalam Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI) sebagai Ketua Komite Pengembangan Profesi, Gede melihat semangat dan minat auditor intern pemerintah terhadap pengembangan diri sangat besar.

"Sebagai Ketua Komite Pengembangan Profesi AAIPI, pada awal saya membuat seminar di kalangan auditor intern secara gratis, itu saja saya pada mulanya ragu. Bertanya dalam hati, apakah ada peminatnya? Maklum, ‘orang baru'. Tetapi,  selang dibuka pendaftaran dua jam saja, sudah ada sekitar 250 peserta yang mendaftar. Selanjutnya, seminar berikut, dengan membayar pun, peminatnya ternyata  masih memembludak. Sampai kami meminta Ketua Umum AAIPI Bu Sumiyati menambah kapasitas peserta. Bukan main!," kata Gede saat berdiskusi dengan Kepala Perwakilan (Kaper) BPKP Kalbar di ruang kerja Kaper.

Hal ini menunjukan, simpul Gede, semangat untuk menggali ilmu itu muncul disebabkan auditor memang dituntut untuk selangkah lebih maju dari auditeenya. Karena memang pengawasan intern harus dipahami juga sebagai quality assurance. Sehingga auditor intern dalam penugasannya dapat lebih dahulu memahami peraturan dan teori guna memastikan bahwa penugasannya dapat membimbing dan mengawal auditee-nya di jalur yang benar dan terarah kepada tujuan yang tepat.

Di akhir pertemuan, Irjen mengucapkan terima kasih atas diskusi yang hangat pagi itu, dan siap untuk menjalin koordinasi lebih lanjut.

Kaper BPKP Kalbar Dikdik Sadikin memberikan apresiasi terhadap kunjungan Irjen dan menyatakan kesiapan pihaknya untuk membuka pintu selebar-lebarnya apabila diperlukan untuk konsultasi dalam hal permasalahan dan solusinya apabila masih ada hal-hal yang diragukan.

 

Humas BPKP Kalbar/Fajar Winarso