Deputi Bidang Akuntan Negara

Artikel

Artikel



Beberapa artikel yang berkaitan dengan kegiatan Deputi Bidang Akuntan Negara:

 

RISIKO MORAL HAZARD PMPRB

Akhir Maret 2013 merupakan batas waktu bagi Kementerian/Lembaga (K/L) dan Pemerintah Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia untuk menyampaikan Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB) secara on-line sebagaimana Surat Edaran MenPAN dan RB Nomor 21 Tahun 2012. Dampak dari kebijakan baru ini tentu saja tengah menyibukkan seluruh Kementerian/Lembaga untuk melakukan pengisian apa yang disebut dengan PMRBN on-line. Dapat dipastikan seluruh K/L mempertanyakan apa sebenarnya PMRBN serta sejauhmana metode ini dapat mendorong proses Reformasi Birokrasi di Indonesia.

Berikut tulisan Christina Ningsih di Warta Pengawasan Edisi Maret 2013

Selengkapnya: Artikel Christina-RISIKO MORAL HAZARD PMPRB.pdf

 

Perbandingan Standar Manajemen Risiko Australia / New Zealand Standard
AS/NZS 4360:2004 dengan COSO Enterprise Risk Management 2004

Banyak sudah standar manajemen risiko yang dipakai di dunia, seperti; Standar Canada, Standar Inggris, Standar Australia / New Zealand AS/NZS 4360 : 2004 dan COSO Enterprise Risk Management. Dari sekian banyak standar manajemen risiko yang dikeluarkan oleh banyak negara dan lembaga tersebut Standar Australia/New Zealand AS/NZS 4360 : 2004 dan COSO Enterprise Risk Managementlah yang banyak diterima secara umum. Tulisan ini menjelaskan perbandingan antara kedua standar tersebut yang dapat dipakai sebagai landasan pemahaman konsep pelaksanaan manajemen risiko di lapangan...

 


Selengkapnya silahkan klik Artikelslametsusanto.pdf


 

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum

Bagi perusahaan air minum, infrastruktur air minum merupakan aset utama yang nilainya signifikan. Oleh karena itu harus dikelola secara baik mulai sejak perencanaan kebutuhan, penyediaan dana, pengadaan aset, pengoperasian, pemeliharaan, hingga pada pemusnahan aset. Pengelolaan aset tersebut dikenal dengan istilah manajemen aset.


Manajemen aset merupakan suatu pendekatan yang dapat memberikan semua informasi dan alat analisa yang diperlukan untuk mengelola aset yang ada agar menjadi lebih efektif dan dapat memenuhi kebutuhan saat ini dan masa mendatang - tidak terlepas dari peristiwa yang mungkin terjadi dan dapat menghambat pencapaian tujuan/sasaran perusahaan. Peristiwa yang dapat menghambat pencapaian tujuan manajemen tersebut atau biasa disebut dengan risiko, harus dikelola dengan baik dengan cara menerapkan manajemen risiko yang sistematis.


Dengan memperhatikan permasalahan di atas, Penulis mencoba memberikan pemikiran tentang perlunya memaksimalkan manajemen aset yang berbasis risiko pada pengelolaan aset perusahaan air minum.


Selengkapnya silahkan klik Artikelslametsusanto2.pdf



 




Arsip adalah dokumen/naskah yang merupakan rekaman informasi kegiatan suatu organisasi yang penting baik bagi organisasi swasta maupun lembaga pemerintah. Sebagai rekaman kegiatan, arsip menjadi bahan pertanggungjawaban dan bukti kegiatan serta menjadi bukti sejarah suatu organisasi bahkan sejarah suatu bangsa, bahkan dalam sidang di pengadilan, arsip menjadi salah satu bahan bukti yang sangat penting untuk menentukan suatu putusan hukum. Begitu pentingnya arsip, sehingga penanganannya perlu diatur dalam Undang Undang Kearsipan.


Penanganan dan pengelolaan arsip, perlu diatur dengan sistematis dan menggunakan sarana yang khusus. BPKP sebagai salah satu lembaga negara, mempunyai kewajiban melakukan pengelolaan arsip dinamis. Pada tahun 1991 BPKP telah melakukan kerja sama dengan Arsip Nasional (ANRI) dalam kegiatan pelatihan / diklat kearsipan bagi Pegawai BPKP. Hasilnya, BPKP telah mempunyai pedoman tata kearsipan, jadwal retensi arsip, pedoman pemusnahan dan aturan-aturan kearsipan lainnya, disamping mempunyai SDM sekitar 114 arsiparis yang tersebar di pusat dan perwakilan.


Setelah BPKP Pusat pindah kantor ke Jalan Pramuka mulailah para arsiparis dan pengelolaan kearsipan mengeluh dalam penanganan dan pengelolaan arsip. Pasalnya di gedung baru tersebut tidak disediakan tempat/ruang dan sarana penyimpanan arsip di unit-unit kerja, sehingga arsip tidak dapat ditata rapi sesuai dengan aturan kearsipan, bahkan untuk menyimpannya pun terpaksa sementara ditumpuk di ruang kerja yang tentunya dapat mengganggu kenyamanan kerja. Hal ini mengingatkan kita pada kondisi kearsipan BPKP sebelum tahun 1990.


Rupanya Gedung BPKP yang baru ini memang dirancang hanya untuk menyimpan arsip “soft copy” nya saja. Lalu.... bagaimana fisik arsipnya................?


Yang paling bermasalah adalah ketika arsip-arsip itu dicari kembali untuk digunakan sebagai bahan referensi atau lainnya, memakan waktu yang cukup lama bahkan belum tentu dijumpai. Sementara pengelolaan arsip berbasis TI baru tahap sosialisasi draft. Sambil menunggu hal tersebut dilaksanakan kami mengusulkan untuk menyimpan arsip di dalam komputer dalam bentuk SCANNING ARSIP.


Deputi Bidang Akuntan Negara sejak akhir tahun 2007 telah mulai melakukan scaning arsip. Semua arsip kecuali yang berbentuk laporan dari Perwakilan BPKP atau dari unit kerja lain, discan dan disimpan dalam folder (di komputer) sesuai dengan tata penyimpanan fisik arsipnya.


Maksud dan tujuan scanning arsip adalah:


Pelaksanaan scanning arsip memang tidak serta merta menghilangkan fungsi arsip itu sendiri, sehingga tetap harus dicarikan solusi terbaik. Dengan mulainya pelaksanaan scanning arsip, pengelolaan arsip berbasis TI dapat segera tercapai. Kami berharap. Bagi kawan-kawan arsiparis di unit kerja lain dapat juga mulai melakukan scanning arsip sebagai solusi penataan berkas.


Demikian harapan dan masukan kami agar dapat bermanfaat. (Rahmat Jaya / Arsiparis)

 


  • SCANNING ARSIP (26 Februari 2009)
    oleh Rahmat Jaya / Arsiparis, pegawai pada Deputi Akuntan Negara.
    1. agar mudah, cepat dan tepat menemukan kembali arsip,
    2. sebagai alternatif pengganti fisik arsip,
    3. sebagai back up bila fisik arsip hilang.
    4. penghematan tempat penyimpanan arsip.
    5. solusi sementara penanganan arsip sebelum sistim arsip berbasis TI berlaku penuh.

Berita Lainnya


Share