Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi

PTBI 2021 mengusung tema Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi, diikuti oleh peserta secara offline dan online menggunakan zoom meeting dari Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. Acara yang berlangsung di Hotel Maleo diawali dengan penandatanganan MoU Bank Indonesia dengan Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) yang ada di Sulbar serta penyerahan beasiswa untuk siswa/siswi SMK berprestasi. Bank Indonesia juga memberikan penghargaan kepada beberapa pelaku usaha perbankan di Sulbar, satu pondok pesantren terbaik, dua UMKM, satu kelompok tani, serta beberapa kategori penghargaan lainnya.

Melalui zoom meeting, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjio menyampaikan prospek ekonomi tahun 2022 dan arah kebijakan yang terangkum dalam tema bangkit dan optimis, sinergi dan inovasi untuk pemulihan ekonomi. Pemulihan ekonomi global pada tahun 2022 diprediksi akan seimbang seiring rendah kasus aktif Covid-19. Pertumbuhan sektor ekonomi dan stimulus kebijakan di negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat bahkan di negara emergensi seperti India dan Asia serta Tiongkok menunjukkan meningkatnya volume perdagangan. Di samping itu, terdapat lima permasalahan global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti normalisasi kebijakan moneter dan fiskal di negara maju, scarring effect pandemi terhadap korporasi dan stabilitas sistem keuangan, meluasnya pembangunan sistem digital antar negara dan risiko aset kripto, semakin kuatnya tuntutan penerapan ekonomi keuangan hijau dan melebarnya kesenjangan dan perlunya indeks keuangan.

Presiden Joko widodo dalam arahannya menyampaikan bahwa konsumsi dan indeks keyakinan konsumen sudah kembali pada posisi normal, seperti sebelum pandemi. Di sisi produksi, di PMI manufaktur, Purchasing Managers' Index manufaktur adalah 57,2%, lebih tinggi dari sebelum pandemi di angka 51%, yang mengindikasikan bahwa demand sudah ada dan semakin baik, ujar Joko Widodo. Selain itu pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal ke II berada di angka 7,07%, kuartal ke III mengalami penurunan akibat PPKM yang Panjang menjadi 3,51%. “Kita patut berterima kasih kepada jajaran BI, jajaran Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS yang mana komunikasinya sangat baik dan bisa saling mengisi”, ujar Joko Widodo.

Di tempat terpisah Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat Hermanto dalam sambutanya mengutip apa yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia dan Presiden RI mengenai pertumbuhan ekonomi kita yang sejak tahun 2020 sampai sekarang mengalami tantangan yang tidak mudah. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat mengalami kontraksi atau minus di angka 1,42%. Di awal 2021 terjadi gempa bumi sehingga pertumbuhan ekonomi negatif di angka 1,28% di triwulan I. Pada triwulan II ekonomi mulai tumbuh positif di angka 5,07%. Kedepan BI akan melakukan intervensi sesuai dengan tugas BI disinergikan dengan program pemerintah provinsi dan kabupaten di sektor perikanan, sektor pertanian dan pertumbuhan ekonomi syariah.

Pada kesempatan yang sama Wakil Gubernur Enny Anggraeni Anwar mengatakan bahwa tahun 2021 penuh dengan tantangan bagi perekonomian Sulawesi Barat, selain karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan mobilitas masyarakat terhambat dan berimbas pada menurunnya kegiatan ekonomi dan juga disebabkan bencana gempa bumi. Enny mengatakan pertemuan tahunan BI ini merupakan wadah yang tepat bagi kita semua untuk bergandengan tangan menyatukan langkah, bersinergi, berinovasi membangun optimisme pemulihan ekonomi Sulawesi Barat. Enny berharap sinergi yang selama ini telah terjalin dapat dilanjutkan dan diperkuat demi masyarakat Sulawesi Barat yang maju dan malaqbi.

Mewakili Kepala Perwakilan BPKP, Korwas Bidang Akuntan Negara I Komang Asmara, mengikuti acara yang dihadiri para Bupati se-Sulbar, unsur Forkopimda, instansi vertikal, para kepala sekolah serta beberapa pengurus pondok pesantren ini.

Acara yang dilaksanakan pada pagi hari dirangkai dengan gala dinner yang diikuti juga oleh Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Barat Hasoloan Manalu. Pada acara tersebut kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Barat Hermanto menyampaikan bahwa Provinsi Sulawesi Barat akan menjalin kerja sama dengan Provinsi Kalimantan Timur. Kemungkinan Kalimantan Timur menjadi ibukota negara merupakan peluang besar bagi Sulawesi Barat sebagai provinsi tetangga yang hanya dibatasi oleh laut sehingga potensi dan kakayaan Sulawesi Barat dapat lebih termanfaatkan. Acara dilanjutkan dengan bincang santai untuk menjalin sinergi dan inovasi dengan rarasumber Wakil Gubernur Sulawesi Barat dan kepala Perwakilan Bank Indonesia.