Berita Seputar BPKP dan Pengawasan

Menyemai Kompetensi yang Dibutuhkan Auditor Investigatif
21 Juni 2019 08:52:30 / lampung1 / dibaca: 1452 kali / Kat: Pendidikan, Pelatihan dan Pembinaan Auditor

Bandar Lampung (17/6) - Tidak cukup memiliki hard competency, APIP juga harus memiliki soft skill yang mumpuni, yaitu pondasi yang kokoh berupa attitude dan integrity untuk mengendalikan risiko fraud.

Demikian pesan yang disampaikan oleh Direktur Investigasi Wilayah I, Deputi Bidang Investigasi BPKP Arief Tri Hardiyanto pada pembukaan "Diklat Audit Investigatif Dalam Rangka Peningkatan Kapabilitas APIP se-Provinsi Lampung". Diklat diselenggarakan oleh Perwakilan BPKP Provinsi Lampung dengan anggaran biaya PNBP Non Kalender Diklat selama lima hari sejak tanggal 17-21 Juni 2019 dengan jumlah peserta sebanyak 36 orang. Peserta berasal dari Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung.

Lebih lanjut, Arief mengemukakan bahwa perkembangan saat ini APIP tidak hanya dituntut untuk melakukan audit secara efisien, efektif, dan ekonomis, juga diharapkan memberikan konsultasi kepada manajemen terkait Governance Risk Management Compliance (GRC). Konsultasi APH terkait kompetensi APIP masih terus berjalan hingga kini. Berkat dukungan pemerintah, pada lima tahun terakhir APIP didorong untuk dapat memiliki kapabilitas di level 3 IACM. Merupakan tantangan bagi APIP untuk meningkatkan kapabilitasnya, antara lain melalui kegiatan diklat audit investigatif. "Namun demikian, APIP tidak cukup hanya memiliki hard competency, tetapi juga soft skill yang mumpuni, yaitu mempunyai pondasi yang kokoh berupa attitude dan intregity. Ibarat sapu, dalam rangka membersihkan, sapunya juga harus bersih", imbuhnya.

Dari sisi represif, kondisi ini tidak lepas dari masih maraknya korupsi yang terjadi di Indonesia. Meningkatnya peran APIP yang didukung oleh kapabilitas APIP yang memadai diharapkan akan meningkatkan kinerja pelayanan pemerintah dan menekan kejadian korupsi. Sebagai salah satu outcome yang diharapkan dari diklat ini, APIP dapat meningkatkan kapabilitasnya dalam mendukung pemberantasan tindak pidana korupsi, dan memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia, khususnya provinsi lampung.

Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Lampung Kisyadi dalam sambutannya menyoroti perbedaan audit investigatif dan jenis audit lainnya. Audit investigatif  dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan bukti atas perbuatan yang menyimpang, yang berakibat merugikan keuangan negara. Diklat ini sangat penting dalam rangka membekali dan meningkatkan kompetensi Auditor APIP dalam memenuhi permintaan audit investigatif, maupun audit penghitungan kerugian keuangan negara yang merupakan tindakan litigasi dari APH.

tim humas bpkp provinsi lampung



Share      

Berita Terkait:

18 Oktober 2019 14:59:44 / bali1 / dibaca: kali / Kat: Pendidikan, Pelatihan dan Pembinaan Auditor
Pusbin JFA Gelar Sosiallisasi Penerapan JFA se-Provinsi Bali
16 Oktober 2019 10:06:18 / sulsel1 / dibaca: kali / Kat: Pendidikan, Pelatihan dan Pembinaan Auditor
Deputi AN BPKP Buka Diklat Kapabilitas Auditor SPI BUMN/D dan RSUD
04 Oktober 2019 16:19:04 / adminkita / dibaca: kali / Kat: Pendidikan, Pelatihan dan Pembinaan Auditor
Perkuat Pengawasan Intern, BPKP Gelar Internalisasi Standar Kerja Pengawasan
03 Oktober 2019 10:11:24 / malut1 / dibaca: kali / Kat: Pendidikan, Pelatihan dan Pembinaan Auditor
BPKP Malut Tingkatkan Kualitas SDM APIP di Lingkungan Inspektorat
19 September 2019 08:38:20 / sulsel1 / dibaca: kali / Kat: Pendidikan, Pelatihan dan Pembinaan Auditor
Poltek PIP Makassar Gandeng BPKP dalam Audit PBJ